Bagaimana sebuah perusahaan, institusi, organisasi—bahkan sebuah wilayah dan negeri—menjadi lebih dari sekadar tempat menjemput rezeki?
Tempat bekerja sesungguhnya bisa menjadi rumah, ruang bertumbuh, dan ladang menanam benih spirit dan inspirasi. Energi kerja yang kita keluarkan dikonversi menjadi rasa memiliki. Dari sekadar struktur, ia berubah menjadi keluarga. Dari target dan rutinitas, ia menjadi mimpi bersama.
Di sinilah talenta-talenta bertemu. Bukan untuk saling mendahului, tetapi bersiap terbang bersama, menghidupkan visi dan misi yang diyakini. Fenomena ini nyata dalam banyak organisasi, institusi, perusahaan, bahkan negara yang telah maju. Kemajuan lahir bukan semata dari sistem yang canggih, tetapi dari kesadaran kolektif setiap individu.
Menurut Elton Mayo dan teori Human Relations, keberhasilan organisasi lahir dari kepedulian terhadap hubungan antaranggota, motivasi, dan rasa memiliki, bukan hanya dari struktur atau prosedur formal. Esai ini menegaskan hal yang sama: setiap anggota, hingga unsur terkecil, adalah juru kemudi bagi pencapaian hidupnya sendiri sekaligus bagian dari arah besar bersama.
Pagi ini, di dalam kereta Supas menuju Kampus ITB Yadika Pasuruan, pikiran saya membentang luas. Hamparan sawah di luar jendela menyapa dengan tenang. Wajah negeri terlihat sederhana, namun indah. Negeri ini sesungguhnya bisa memberi lebih banyak—bukan dengan merusak alam atau mengejar cepat keuntungan semata, melainkan dengan merawat apa yang sudah ada. Seperti seorang petani yang menanam padi di sawah pagi-pagi, ia tidak menebang pohon atau merusak tanah; ia menanam, menyiram, dan merawat, hingga benih kecil itu tumbuh menjadi padi yang memberi makan banyak orang. Dari tindakan sederhana itu, terlihat bagaimana perhatian kecil bisa menumbuhkan hasil besar.
Inisiatif besar tidak harus menunggu kebijakan nasional atau struktur megah. Ia bisa dimulai dari kampus, dari ruang-ruang kecil tempat para pemikir bertemu, merajut kerja dari pernak-pernik keyakinan hidupnya, mengubah ilmu menjadi makna, mimpi menjadi gerak.
“Kemajuan bukan soal siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling sadar akan perannya.”
Dan di mana pun kita bekerja, di situlah kita menanam harapan—untuk diri sendiri, untuk organisasi, dan untuk negeri ini.
Urip iku Urup. Setiap kata adalah cahaya, semoga catatan kecil ini menjadi sedekah yang menyalakan kebaikan bersama.
Demikian.
Penulis: Dr. Agus Andi Subroto, S.PT., M.M. (Dekan FHB ITB Yadika Pasuruan)
